Opini

Peringatan Hari Sarung Nasional Perayaan Hari Besar Siapa?

Sorotan: Yousri Nur Raja Agam *)

HARI ini lima tahun lalu, tahun 2019, Presiden Joko Widodo, menetapkan tanggal 3 Maret sebagai Hari Sarung Nasional (HSN). Kendati sudah lima tahun dicetuskan, ternyata peringatan HSN itu masih kurang gaungnya.


Hari Sarung belum memasyarakat. Baru ada kegiatan kalangan tertentu dan masih terbatas. Sangat disayangkan. Sampai-sampai ada yang bertanya, HSN itu untuk siapa. Bahkan, belum jelas, lembaga apa yang diberi peran untuk mendorong semaraknya peringatan HSN itu.

Layak kita mempertanyakan,  sampai di mana program HSN yang berjalan hingga tahun 2024 ini.
Sungguh memprihatinkan. Suatu peringatan Hari Nasional yang dikumandangkan oleh Presiden Republik Indonesia, bertempat di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta itu, namun berhembus bak angin lalu.

Seharusnya peringatan dan perayaan Hari Sarung Nasional itu, diikuti dan dirayakan di seluruh daerah. Ke seantero pelosok Nusantara. Apalagi, sarung atau kain sarung merupakan sandang pelengkap masyarakat Indonesia. Terutama umat Islam, yang menjadikan sarung sebagai bagian dari busana ibadah.

Memang, tahun ini di Jakarta berlangsung perhelatan cukup besar, yakni pameran kerajinan Inacraft 2024. Pameran ini diadakan di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Selatan, pada 28 Februari hingga 3 Maret 2024. Arena itu bukan sebagai rangkaian HSN. Namun ada perusahaan kain sarung yang hadir di pameran ini. Behaestex, yang menampilkanb dua produk unggulannya,
yaitu Sarung BHS dan Sarung Atlas.

Sebagai bagian dari kerajinan tangan (handycraft)
produk sarunng Behaestex itu menonjolkan keahlian pengrajin tenun trafisional. Mereka menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Perangkat tenun yang nadih menggunakan kayu. Sehingga proses pembuatannya menarik jadi tontonan.

Produk sarung Behaestex ini, telah tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan produknya ini juga telah didistribusikan ke berbagai negara di Asia, Afrika, dan belahan dunia lainnya.

Wamenag Tidak Tahu HSN

Suatu hal yang cukup menggelikan, saya ketahui sendiri di Surabaya, tahun lalu. Ternyata Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Saiful Rahmat Dasuki, belum tahu ada Hari Sarung Nasional (HSN).

Kebetulan sang Wakil Menag ini, hadir pada puncak acara peringatan Hari Santri Nasional. Singkatannya sama, juga HSN. Peristiwa ini dikaitkan dengan Revolusi Jihad. Sejarah perjuangan para santri dan arek-arek Surabaya, tanggal 22 Oktober 1945 di Kota Pahlawan.

Saat itu berlangsung acara parade Sarung Santri Nusantara di Gedung Grahadi, Surabaya, Sabtu malam, 21 Oktober 2023. Saat itu ditampilkan peragaan busana sarung dengan berbagai corak dan motif. Bahkan para pejabat negara dan undangan yang hadir mengenakan sarung.

Wakil Menteri Agama, Saiful, dalam sambutannya, mengatakan bahwa santri dulu dianggap sebagai kaum sarungan di mana anggapan itu terkadang menuju ke kelompok yang kolot, terbelakang, dan tradisional. Hari ini kita lihat banyak pejabat yang sudah memakai sarung secara resmi, ujarnya.

Bagaikan orang yang sama sekali belum pernah mendengar, apalagi mengetahui tentang Hari Sarung Nasional (HSN). Padahal sudah ditetapkan secara resmi oleh Presiden Jokowi, diperingati setiap 3 Maret, sejak tahun 2019. Sungguh mengejutkan, Saiful Rahmat Dasuki dengan “lantang” menyatakan, meliha5 kenyataan ini, ia akan mengusulkan ada “Hari Sarung Nasional”. 

Sayabheran dan terkejut mendengar ucapan Wamenag itu. Saya sadar, ternyata sang wakil menteri memang belum tahu. Bahkan, para undangan juga tidak ada yang bereaksi. Di dalam hati saya menyadari, ternyata masih banyak petinggi negeri ini yang belum tahu Hari Sarung Nasional. , yang diperingati setiap tanggal 3 Maret ini.

Kenyataannya, memang demikian. Masih segelintir warga negara Indonesia yang tahu, serta tergerak hatinya untuk mengenang dan merayakan hari besar “kaum sarungan” hari ini.

Saya Terpaksa Nyinyir

Maaf, saya mungkin termasuk “paling nyinyir” sebab Tiap tahun, terus-menerus menyampaikan opini tentang adanya Hari Sarung Nasional (HSN) ini. Sampai-sampai saya bertanya, HSN ini untuk apa? Milik siapa? Tanggungjawab siapa?

Padahal,  kalau ada yang menggerakkan dari Pusat, pasti daerah-daerah sampai ke pelosok kampung, akan mengikutinya. Kita tahu, sejak dahulu kala, sarung sudah sangat akrab dengan kehidupan dan budaya masyarakat di Indonesia.

Boleh dikatakan di seluruh pelosok Nusantara, rakyat Indonesia sudah mengenal dan tidak asing dengan kain sarung. Sarung atau kain sarung, menjadi kelengkapan busana laki-laki dan perempuan. Bahkan tidak pandang usia. Bisa untuk anak-anak, dewasa sampai lansia.. Juga hanya  bukan sebagai perlengkapan ibadah umat muslim. Kain sarung bisa digunakan siapa saja.

Memang di kalangan umat  Muslimn sarung sudah membudaya. Digunakan sebagai pelengkap menunaikan shalat. Kendati tidak ada ketentuan atau keharusan pakai kain sarung. Walaupun ada anggapan bahwa,  kain sarung sudah menjadi simbul dan identitas para kiyai, ulama dan santri.

Selama ini, di Indonesia dan beberapa negara di dunia, kain sarung sudah membudaya sebagai alat perangkat shalat. Di samping penggunaannya praktis, juga sangat memenuhi ketentuan sebagai busana shalat. Tetapi kain sarung merupakan bagian dari perangkat busana serbaguna.

Jadi, kain sarung bukan hanya khas umat Islam, tetapi juga bagian dari budaya berbagai daerah di Nusantara. Artinya, kain sarung bukan khas umat Islam dan bukan hanya untuk shalat atau ibadah kaum Muslim saja.

Bagi umat Hindu, misalnya, kain sarung bukan hanya digunakan sebagai busana, tetapi juga untuk kelengkapan dan dekorasi di tempat peribadatan. Di berbagai negara, terutama di Asia dan Afrika, kain sarung dengan berbagai corak, juga sudah biasa digunakan sebagai pelengkap busana.

Bagaimanapun juga, bangsa Indonesia harus bangga, ternyata kain sarung produksi Indonesia ini, juga digunakan oleh masyarakat lainnya di dunia. Kain sarung tenun buatan Indonesia, ekspornya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pelakat dan songket

Di bawah ini, saya cuplik tulisan saya tahun-tahun lalu, untuk mengingatkan, masalah kain sarung. Sejarahnya, kain sarung diproduksi secara turun temurun dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) dan kemudian beralih ke ATM (Alat Tenun Mesin) sesuai perkembangan teknologi. Di samping sebagai kain sarung oelakat,  juga ada yang disebut kain songket, bahkan sarung batik. 

Awalnya kain sarung di Indonesia dibuat dengan bahan dasar alami, yakni benang katun dan benang sutra. Kemudian berkembang menggunakan benang alam lainnya, bahkan sintetis. Walaupun dari berbagai daerah, menggunakan bahan benang kapas dan benang sutra, namun kain sarung sutra dari Bugis lebih dikenal. Sehingga, sebutan Sarung Bugis, identik dengan kain sarung dari Sulawesi Selatan, memiliki penggemar yang tidak sedikit. Bahkan, sarung Samarinda juga sempat merebut pasar tradisional. 

Namun, di era modern seiring kemajuan teknologi, proses pembuatan sarung tidak tergantung dari tenun dengan bahan benang saja. Kini, menyusun dan mengurai untuk menentukan corak dan warna telah banyak dikerjakan dengan bantuan komputerisasi.

Corak dan ragamnya, kain sarung juga menjadi pelengkap busana adat dan budaya di berbagai daerah. Misalnya, di masyarakat Minangkabau bersama masyarakat rumpun Melayu, kain sarung menjadi pelengkap busana adat tradisional. Bahkan, menjadi busana resmi, yang sama fungsinya dengan celana panjang. 

Kombinasi kain sarung dengan baju jas, sudah lama kita lihat digunakan para tokoh nasional masa lalu. Masyarakat Melayu, mulai dari Aceh, Riau, Deli, Minang, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Betawi, Banten, Madura, serta Banjar dan Bugis, menjadikan kain sarung sebagai pelengkap busana adat.

Kain sarung dilipat dua menjadi setengah bagian dipakai di pinggang, dipadu dengan tetap menggunakan celana panjang. Model seperti ini, di samping menggunakan kain sarung, juga menggunakan kain songket. 

Songket adalah jenis tenunan yang biasanya digunakan sebagai busana kaum ibu bagian bawah dan selendang. Busana ini umumnya digunakan sebagai pakaian adat berbagai daerah di Indonesia. Terutama di luar Jawa. Lebih khas lagi, kain sarung digunakan untuk busana adat “setengah resmi” bagi laki-laki di masyarakat Minang. 

Kain sarung dilipat memanjang dijadikan sal yang disandang di leher. Biasanya kain sarung “sutra” Bugis. Busana yang dipakai baju takwa atau gunting Cina warna putih, dikombinasi dengan celana panjang batik atau celana panjang biasa.

Tentunya, menggunakan tutup kepala kopiah hitam atau topi putih khas Arab. Ada juga penggunaan kain sarung dipasang setengah lipatan atau seukuran selendang songket, di bawah jas atau beskap. Busana seperti setelan jas ini, tidak jarang digunakan sebagai pakaian resmi.

Ingat Basofi Soedirman

Tentang beskap dan kain sarung, saya  jadi teringat nama mantan Gubernur Jawa Timur, HM Basofi Soedirman (alm). Beskap digunakan pengganti jas, sebagai PKJ (Pakaian Khas Jawa Timur). Pakaian resmi untuk acara dan upacara bersifat kedaerahan. 

Busana beskap model safari yang di kantong kirinya dihiasi rantai dengan asesoris kuku harimau itu pun, dikenal di dunia mode sebagai “baju basofian” dan hingga saat ini makin akrab dipakai.

Meski Basofi menerapkan penggunaan PKJ saat dia masih menjabat Gubernur Jawa Timur tahun 1993-1998, namun terus berlanjut dipakai pemerintahan Jawa Timur hingga kini. Nyaman dipakai, beskap yang berubah nama jadi PKJ itu, oleh Basofi yang juga pelantun lagu “Tidak Semua Laki-laki” kemudian memodifikasi bahan dasar beskap dengan kain batik. 

Busana beskap berbahan dasar batik ini digunakan secara bersama di sebuah kepanitiaan. Enak dipakai, dan kemudian “baju basofian” dari bahan batik ini, juga digunakan oleh berbagai kegiatan lainnya. 

Basofi juga memasyarakatkan baju dengan bahan kain sarung. Sebagai penggagas, Basofi langsung menyosialisasikan busana baju beskap berbahan dasar kain sarung dengan mengenakannya ke mana-mana. Orang pun menyebutnya baju model Basofi.

Setelah  tiga tahun Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, menetapkan tanggal 3 Maret sebagai Hari Sarung Nasional, maka seyogyanya peringatan tahun ini lebih meningkat dan berkualitas. 

Saat pengesahan Hari Sarung Nasional itu, sembilan kementerian dan lembaga negara menyelenggarakan Festival Sarung Indonesia 2019. Bersamaan dengan itu dilaksanakan peresmian Rusari (Rumah Sarung Indonesia) di Jakarta.

Terkait itu, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop dan UKM) AAGN Puspayoga, ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai ketua dewan pembina acara yang digelar di Gelora Bung Karno (GBT), Senayan, Jakarta.

Ditetapkannya tanggal 3 Maret, sebagai Hari Sarung Nasional para perancang mode pun banyak yang mengembangkan kreativitasnya. Selain memodifikasi busana dengan bahan dasar kain sarung, juga ada yang memperkenalkan celana panjang bercorak kain sarung.

Kita harapkan, Kain Sarung Tenun Indonesia sebagai warisan budaya nasional,  diakui dunia. Untuk itu, marilah kita semarakkan peringatan Hari Sarung Nasional, sehingga nantinya tanggal 3 Maret bisa diangkat menjadi Hari Sarung se Dunia.

“Selamat Hari Sarung Nasional Tanggal 3 Maret 2024”.

Naskah ini juga dimuat di beritalima.com. dan jatimsatu.com

*) HM Yousri Nur Raja Agam,
Wartawan Senior dan Pengurus Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI)

Komentar

Berita Terkait

Back to top button
Close